Jumat 15 Oct 2021 07:17 WIB

Sejarah China dan Prospek Perang Laut China Selatan

Perang laut China Selatan segera dimulai?

Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kantor Informasi Angkatan Laut AS menunjukkan kapal induk USS Ronald Reagan (CVN 76) dan USS Nimitz (CVN 68) dan kelompok pemogokan mereka (CSGs) uap dalam formasi selama latihan di Laut Cina Selatan, 06 Juli 2020. Pada 13 Juli 2020, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo secara resmi menolak sebagian besar klaim China atas Laut Cina Selatan.
Foto: EPA-EFE/MC3 Jason Tarleton
Sebuah foto selebaran yang disediakan oleh Kantor Informasi Angkatan Laut AS menunjukkan kapal induk USS Ronald Reagan (CVN 76) dan USS Nimitz (CVN 68) dan kelompok pemogokan mereka (CSGs) uap dalam formasi selama latihan di Laut Cina Selatan, 06 Juli 2020. Pada 13 Juli 2020, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo secara resmi menolak sebagian besar klaim China atas Laut Cina Selatan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ridwan Saidi, Politisi Senior, Sejarawan, dan Budayawan Betawi.

 

Perjalanan sejarah China cukup menarik untuk dapat memahami politik dan ekonomi  mereka yang ekspansionistis.

Kebangkitan China, setelah kejatuhan dinasti Han pada III M,  di era  Dinasti Tang pada VII M - X M. Setelah itu China ganti berganti dirujak  Mongol dan Manchu.

Abad XIX ganti berganti China dirujak bangsa barat dengan perang Boxer. Usai Boxer, Jepang menyerbu.

Abad XX M China memasuki pergulatan idiologi. Tawaran Dr Sun Yat Sen dengan nasionalisme-nya cuma diminati Kou Min Tang pimpinan Chiang Kai Sek. Mayoritas China ke Ku Chan Tang dengan ketua Mao Tse Tung alias Paman Mao. Tahun 1949 paman Mao menang dan berhasil menempatkan Ku Chan Tang, yang menjadi PKC, sebagai partai penguasa. Lalu China bersahabat dengan Uni Sovyet. Kemudian pecah. 

"Problema yang dihadapi China adalah ekonomi" tegas Paman Mao."saKita olang kaga bisa ke utala, kepentok gunung, kita Olang misti ke selatang."

Kalau Uni Sovyet dijuluki negara Tirai Besi, China Tirai Bambu.

Pada sisi lain USA yang perang dingin dengan Uni Sovyet mencoba mainkan variabel China dengan ping-pong diplomacy tahun 1971.

Syahdan, Paman Mao meninggal tahun 1976. Deng  Xiao Ping naik. Deng bilang, gua olang kaga pelduli punya, mau kucing item kek, puti kek, yang penting bisa caplok tikus. Isyarat Deng OK modal dari Amerika masuk.

Tahun 2010 USA gelisah dengan kemajuan yang dicapai China. Hal itu ternyata terlihat dari pidato Presiden Obama di Istana Negara tahun 2010 jaman SBY. "Saya mau dalam perdagangan USA nomor satu di Indonesia. Bukan China, kata Obama tegas.

China memang nomor satu dalam ekonomi. Bersamaan dengan itu China juga asyik claim banyak titik di Laut China Selatan. Kejayaan Dinasti Tang sepertinya mau berulang.

Tau-taunya, kini China dikepung USA dan sekutunya sejak Maret 2020. Sampai sekarang.

Kapan dar der dor?

Dar der dor jadi. Tapi Time Factor beradadi tangan Joe Biden. Sabar ente!

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi