REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika
Hari ini sebuah WA dari kampung masuk. Isinya melaporkan jeritan hati para petani beras yang mengeluhkan jatuhnya harga petani.
Isi WA getir sekali: ''Beras petani hanya dibeli dengan Rp 300 ribu per kwintal. Padahal seharusnya minimal Rp 600 ribu. Tapi syukuri saja Mas. Enak kok jadi orang miskin. Nanti kan dapat beras murah, indo mie tiga biji, dan sumbangan sarden."
Tak hanya itu isi WA itu: "Lagi pula ngapain nyekolahkan anak tingi-tinggi. Tokh lihat di TV mereka yang punya pangkat gede dan gelar profesor doktor malah banyak yang ketangkep KPK karena korupsi. Jadi biar saja anak petani tak sekolah. Yang penting selamat dunia akhirat. Toh masih bisa pergi ke kota meski jadi tukang ojek. Yang penting halal rejekinya!"
Hari-hari ini di isu impor beras memporakporandakan kerabat saya yang jadi petani. Mereka tak bisa apa-apa dan hanya terdiam --kalaupun menjerit hanya di dalam hati -- melihat 'kebanalan' ini semua.
Bayangkan, semenjak sebulan ini mereka panen raya. Mereka harus jual stok padinya yang lama karena akan datang padi baru. Mereka jual stok padi juga karena kebutuhan berbagai macam, misalnya untuk makan sehari-hari, biaya sekolah anak, hingga mempersiapkan lahan untuk tanam kembali. Tapi lacur, harga gabah jatuh. Mereka garuk-garuk kepala dengan hati hancur lebur.
Bayangan mendapat uang sirna seperti lazimnya pun menguap. Padahal jumlahnya pun sebenarnya tak seberapa. Jauh beda sama orang kota dan pejabat yang seringkali mondar-mandir di layar televisi. Mereka tokh juga sama-sama tersenyum ceria sembari melambai-lambaikan tangan meski memakai rompi warna oranye. Apa pun sebutannya, pakaian warna oranye itu jelas lebih keren dari pada kaos oblong kumuh petani yang berbai apek keringat dan kumal.
Para petani mukanya pun ceria ketika ada omongan pejabat akan impor beras demi mengamankan stok pangan. Adanya pengumuman ini mereka paham bahwa harga beras tak akan jatuh. Lagi pula, kalau harga beras jatuh mereka sadar apa yang bisa dibuat?
Para petani tak bisa apa-apa. Mereka sadar bahwa kini nasib mereka layaknya sekedar 'kambing berbulu hitam' alias pangkal buruk masalah. Sadar begini, mereka juga tak ingin bersedih. Biasa saja.
Bila logika ini dibiarkan, para petani tahu memang imbasnya jelas tak hanya kepada mereka saja. Yang akan paling kena adalah warga nahdliyin alias warga Nahdlatul Ulama (NU). Ekor masalahnya makin panjang, ini akan memukul dunia pesantren atau sekolah sekolah Ma'arif yang dikelola NU. Juga dipastikan akan menyusahkan para nyai dan kiai yang mengelola pesantren.
Semua tahu persawahan (petani), pesantren, dan kiai semuanya saling terikat dalam jalinan 'buhul' atau ikatan yang kuat. Tapi tak apa, warga Nahdliyin sudah biasa sengsara?
Hari ini para petani memang terkesan diam. Suara tak terdengar. Mereka sepertinya jadi orang dengan sebutan klasik 'Pak Turut dan Bu Turut saja'. Semua serba menurut, tak ada yang protes. Lagi pula untuk apa protes? Biar saja. Santai- lah kan sudah ada yang mikir negara.
Benarkah begitu? Emang sih jawabnya, sama sekali tidak. Namun, para petani bisa apa. Mereka diam karena sadar sekali tak punya daya. Mereka tak punya media sehingga seperti orang kota dan kaum kaya pengusaha yang canggih. Mereka tak artikulatif karena pendidikan rendah.
Para petani hanya merasa untuk apa mengotori hati. Biar saja tetap bening sebab kalau yang kotor itu orang lain. Pasti semua tahu apa yang terjadi. Tahu ketidakadilan yang sedang berlangsung. Kalau tidak didengar dan dipahami, lalu mau apa?
Di kampung kini beredar lucuan dengan topik 'Memang lebih enak jadi orang miskin'. Tiap bulan ada bantuan datang ala orang pensiunan. Ada uang tunai, sarden, indomie dan beras. Sekolah untuk tingkat dasar pun gratis. Kata mereka sembari tertawa-tawa: Enak memang jadi pengangguran miskin. Tak perlu ke mana-mana. Tak perlu modal apa-apa. Tokh masih hidup!
Alhasil, para petani memang tak butuh revolusi. Cerita desa mengepung kota ala pemimpin China Mao Tse Tung hanya isapan jempol aktivis kota yang mengada-ada. Mereka tahu bila itu terjadi mereka juga hanya akan jadi korban. Para petani sadar bahwa hidup mereka terjepit layaknya film komedi Warkop DKI dulu: Maju Kena Mundur Kena.
Mengapa begitu? Para petani tahu kalau mereka sejahtera akan membahayakan orang kota. Kalau harga beras naik maka akan banyak orang yang tak bisa makan. Ujung-ujungnya akan memicu kerusuhan.
Jadi petani sadar diri. Tokh petani yang sebagian besar warga Nahdliyin selalu diajarkan hidup tawadu dan berani berkorban kepada orang lain demi kebaikan semesta. Mereka sadar. Mereka ingin jadi pahlawan seperti leluhurnya dulu ketika berjuang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini.
Para petani sadar jadi rabuk bagi eksistensi negara adalah jalan hidup. Istilah kerennya semacam darma. Biarlah yang lain bahagia, tokh kami (petani) sengsara. Dan itu akan diterima dengan lapang dada.
Kepada elit para petani, stop saja perdebatan soal data impor beras. Tak perlu dibuka-buka. Karena ada impor maupun tak ada impor beras, mereka tetap menderita. Bagi petani data beras itu lucuan. Ya tingkatannya sama dengan data statistik yang katanya kemiskinan selalu dan terus menurun. Para petani tahu kebiasaan keren semua rezim, nanti setelah panen raya atau bantuan negara akan datang petugas sensus yang akan tanya apakah dirinya kini bahagia?
Paling banter mereka hanya 'nguda rasa' kepada para kiai sekampungnya bahwa hidup itu lucu dan selalu lucu. Bahkan kemiskinan dan ketidakadilan adalah hanya sekedar model pembagian pentas teater tiga babak ala Shakespeare sepanjang zaman. Derita dan tangis akan selalu ada sepanjang hayat petani layaknya babak pengantar, isi, dan akhir dalam sebuah lakon hidup. Dan layaknya sandiwara maka akhirnya selalu tragedi. Sebab, kalau berakhir bahagia itu bukan pentas sandiwara, itu jadi pertunjukan komedi. Jadi tak apa kan? Sebab, semua ini tokh persis dengan nasib petani.
Samar dan lamat-lamat terdengar sempurna nasihat kuna 'parikan Jawa':
Pagupon omahe doro
wetan kulon katon segoro
Dadi wong tani ojo nggresulo
meski urip iku sengsoro.