Ahad 05 Jan 2020 04:35 WIB

Saddam, Soleimani: Hanya Susi Pudjiastuti Yang Sepadan?

Mengapa dulu yan terkesan berani dan tegas kini lembek?

Susi Pudjiastuti menemui para demonstran nelayan cantrang.
Foto: Republika/Dessy Suciati Saputri
Susi Pudjiastuti menemui para demonstran nelayan cantrang.

Oleh: Muhammad Subarkah, Jurnalis Republika

Syahdan ketika hidup Saddam Hussein adalah orang yang gembira, perhatian, dan lucu, walau kadang-kadang pemberang. Kesan ini dicatat oleh seorang tentara Amerika Serikat yang menjaga tempat tahanan Saddam di Baghdad hingga menjelang hari kematiannya karena terkena vonis hukuman mati dengan cara digantung.

‘’Dia kayak bapak tua yang perhatian. Dia periang dan tak takut mati,’’ kata si tentara AS itu dalam catatan hariannya yang diterbitkan setelah pulang bertugas dari Irak.

Dia mengaku sebagai seorang patriot Amerika maka dia jelas membela negaranya. Namun kerapkali Saddam mengoloknya. Dengan cara membandingkan presiden Amerika sebelum Goerge Bush senior yang menjadi musuhnya.’’Kalau Bush dia orang bodoh, kalau Reagan dia pintar, ‘’ katanya menirukan Saddam.

Dan yang membuat dia terkaget-kaget ketika pada suatu sore sembari duduk bersama ngobrol di ruang tahanan Sadam bertanya tentang negara Irak dan posisi penahanan dirinya. Sadam memanggil dirinya dengan sebutan ‘Son’ (Anak laki-laki atau Nak).

‘’Hey Nak, kamu tahu mengapa saya ditahan di sini?’’ tanya Saddam.

‘’Ya Presiden. Anda membahayakan Amerika Serikat (AS),’’ jawab si tentara muda itu.

Mendengar jawaban ini Sadam langsung tertawa ngakak dengan keras. Dia berkata, ‘’Kamu lucu,’’ tukas Saddam. Prajurit yang menjaga tahan itu sesaat terbengong tak paham akan maksud pernyataan itu.

‘’Kamu tahu apa ada tentara Irak yanga da di Washington?,’’ tanya Saddam lagi. Secara cepat prajurit menjawabnya dengan menggelengkan kepala.

‘’Tidak ada.’’

“Nah, kalau tidak ada tentara Irak yang berada di Washington dengan bawa-bawa senjata, mengapa  saya dianggap membahayakan Amerika Serikat?’’ tukas Saddam Hussein.

Namun sebelum menjawab, Sadam melanjutkan perkataannya.’’Justru yang membahayakan Irak adalah tentara AS karena tentaranya kini berada di Baghdad. Apa tidak terbalik ha ha ha,’’ Jawab Saddam seraya tertawa ngakak seraya mengatakan tolong jawaban ini sampaikan kepada komandanmu.

‘’Sekarang siapa yang membahayakan siapa?,’’ ujar Saddam dengan ketus. Kekesalan Sadam kemudian diwujudkan dalam sebuah novel 'Tarian Iblis' yang kemudian diterbitkan putrinya yang kini tinggal di Yordania. Di Novel itu Saddam mengingatkan bangsa Irak betapa terhinanya hidup di dalam penjajahan yang diibaratkan sebagai tarian setan.

 

                       ****

Ya, sepenggal kisah Saddam Hussein menjelang dihukum mati itu memang terasa trenyuh. Sepilu nasibnya yang dahulu pada awal 1980-an begitu setia menuruti perintah Arab Saudi yang menjadi sekutu Amerika Serikat untuk berperang dengan Iran. Celakanya, meski melakukan perang dengan Iran, pada akhirnya Saddam harus disingkirkan Amerika Serikat ketika dia tak lagi dibutuhkan.

Maka disusunlah skenario isapan jempol tuduhan kepadanya sebagai pemimpin negara yang mempunyai senjata pemusnah massal dan terkait dengan Usamah bin Laden. Alhasil, tanpa ba-bi-bu dan karena nekad menyerang Kuwait yang menjadi sekutu Amerika, negara Irak yang dipimpinnya diserbu tentara Amerika. Pengaruh Saddam tumpas. Baghdad kota tua yang indah hancur berantakan. Negara yang sebelum perang dengan AS kehidupannya setara dengan Italia, kini menjadi negara paria. Baghdad kini menjadi penuh orang miskin bertolak belakang dengan masa Saddam yang gemerlapan.

Anehnya, setelah Irak dibumi hanguskan dan Sadam dibunuh, justru pengaruh Iran yang dri dahulu hingga kini menjadi seteru Amerika, malah bangkit di sana. Irak tanpa Sadam malah jatuh ke dominasi Iran. Dan situasi ini makin membuat kepanasan Arab Saudi. Pengaruh Iran mulai menjulur ke seantero timur tengah. Kukunya ada di mana-mana di Suriah, Qatar, Palestina, hingga Yaman. Arab Saudi --termasuk Israel-- makin terjepit.

Dan itulah yang menjawab pertanyaan mengapa Komandan Pasukan Quds Iran, Jenderal Qassem Soleimani terbunuh dalam serangan udara Amerika Serikat (AS) di Bandara Internasional Baghdad, Irak pada Jumat (3/1) lalu itu. Mengapa dia tidak terbunuh di Teheran, misalnya. Lagi-lagi jawabnya itu karena Irak kini ‘di kuasai’ Iran sehingga masuk akal bila di jendral ini tengah berada di Baghdad.

Lalu mengapa jendral ini yang harus dibunuh oleh mesin perang Donald Trump? Jawabnya, ya karena Trump menyakini Qassem Soleimani inilah yang menjadi otak penyerangan kilang minyak Arab Saudi (Aramco) beberapa bulan silam. Bagi AS menyerang Arab Saudi pada hari ini berarti juga menyerang kepentingan Amerika Serikat. Amerika jelas tak akan membiarkannya.

Uniknya lagi, meski dilindungi dan bersekutu dengan Amerika Serikat, dalam kasus lain, misalnya Uighur, Arab Saudi tak lantang bicara mengkritik China yang kini jadi seterunya Amerika. Negara petro dolar itu memilih diam. Sikap ini lagi-lagi karena terindikasi ada kepentingan bermotif ekonomi. Soal Uighur Arab Saudi memilih cuek saja.

Memetik pelajaran itu, baik Sadam Hussein maupun penguasa Arab Saudi, ternyata tak lebih dari boneka mainan kepentingan kekuatan internasional. Hal yang sama pun dimainkan di Mesir, Libya, dan Aljazair. Ketika butuh mereka jadi sahabat dan ketika kepentingan berbeda mereka jadi musuh. Semua negara bertindak kayak undur-undur. Mereka hanya konsekuen kepada kepentingannya sendiri.

Bagi Indonesia kini menjadi pertanyaan ketika harus menghadapai kepentingan Amerika Serikat, China, atau kepentingan internasional lainnya. Ke mana pilihan akan dilakukan, misalnya ketika wilayah Natuna mulai diklaim oleh Cina. Di sana pasti ada kepentingan Amerika yang punya armada tujuh dan tentara yang luar biasa canggih. Dan inilah pula yang membuat Philiphina yang menjadi sekutu tradisional Amerika berani gertak Cina dengan lantang ketika mencoba mengusik kedaulatannya.

Lalu Indonesia diam saja dan melunak? Pertanyaannya sampai kapan atau hingga wilayah Natuna yang kaya kandungan gas dan minyak bumi dicaplok. Di mana Prabowo yang dulu bicara kencang mengenai soal Natuna ini. Mosok kalah dengan seeorang perempuan yang hanya menjadi menteri perikanan seperti Susi Pudjiastuti yang berani blak-blakan mengatakan: Penegakan Hukum Para Pencuri Ikan Beda dengan Persahabatan Maupun Investasi!

Atau hari ini dunia lagi terbolak-balik? Prabowo yang dahulu mengesankan paling tegas dan berani kini balik kayak undur-undur dan penakut. Apakah kepentingan kekuasaan melembekkannya? Malah terkesan menteri luar negeri Retno yang lebih elegan meski bicara mengapung khas diplomat.Dia mengatakan, pemerintah akan menetapkan empat sikap kepada pemerintah China di mana salah satunya menyatakan bahwa China telah melanggar peraturan dengan memasuki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). Maka, Indonesia menentang tindakan tersebut.

Akhirnya, di waktu seperti inilah perlunya Saddam Hussein dan Kadafi dikenang serta menjadi bahan pelajaran. Ternyata sampai hari ini, diam-diam, hanya seorang Susi yang sepadan dengan ketegasan mereka saat berkuasa?

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi