REPUBLIKA.CO.ID, Catatan Asro Kamal Rokan
Setelah melalui perjuangan panjang, akhirnya rekan-rekan wartawan Malaysia mengukir sejarah: Penetapan Hari Wartawan Nasional (Hawana) pada 29 Mei. Hawana ini ditetapkan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Tun Razak, dalam acara Majlis Pelancaran Hawana di Pusat Pameran dan Konvensyen Matrade, Kuala Lumpur, Rabu (11/4).
Penetapan 29 Mei merupakan tanggal edisi pertama penerbitan surat kabar Utusan Melayu, 29 Mei 1939. “Sebagai pengakuan atas peran wartawan, maka pemerintah menerima Hari Wartawan Nasional, yang selesanggarakan setiap tahun pada tanggal 29 Mei,” ujar Perdana Menteri dalam sambutannya.
Penetapan ini disambut riuh tapuk tangan sekitar dua ribu orang undangan. Hadir antara lain, Menteri Komunikasi dan Multimedia Dr Salleh Said Keruak dan sejumah wartawan senior. Dari Indonesia, hadir Plt Ketua Umum Sasongko Tedjo, Ketua Dewan Kehormatan Ilham Bintang, Sekjen PWI Hendry Bangun, Anggota Dewan Kehormatan/Presiden Iswami Indonesia, Asro Kamal Rokan, pengurus Iswami Radjab Ritonga, Syamsuddin Ch Haesy, dan pengamat media Agus Sudibyo.
Dt Zulkefli Salleh, ketua penyelanggara Hawana, mengharapkan, Hawana menjadi sebuah majlis penting dalam kalendar Malaysia, seperti kumpulan profesional lain.
“Hawana meningkatkan profesionalisme dan indepedensi wartawan dalam menyampaikan masalah serta suara rakyat kepada pihak yang bertanggung jawab,” kata Dt Zulkefli, yang juga CEO Kantor Berita Nasional Malaysia.
Setelah Hawana disetujui, rencananya akan dibentuk Majlis Media Malaysia (MMM), semacam Dewan Pers di Indonesia. MMM akan memainkan peranan sebagai badan pengawal selia media utama di negara ini, menyelesaikan berbagai kasus-kasus yang berkaitan dengan pers.
Wartawan senior Malaysia, Tan Sri Johan Jaaffar, dalam orasinya dengan kritis meminta pemerintah dan media berunding untuk memperkuat kebebasan pers di Malaysia. "Berilah ruang sebanyaknya kepada wartawan supaya mereka dapat bekerja dengan bebas ketika menjalankan tugas di lapangan tanpa ragu dan takut, dalam menyuarakan kritikan,” tegasnya.
Johan juga mendorong lahirnya Majlis Media Malaysia, yang menurutnya langkah tepat bagi penyelesaian pelbagai isu media. "Mungkin dengan penubuhan majlis ini akan memberikan pengisian dan makna sebenarnya kepada Hawana," katanya.
Majelis Pelancaran Hawana juga memberi penghargaan tertinggi kepada Tengku Abdurahman, PM pertama Malaysia. Penghargaan itu diterima cucu ketiga Bapak Pendiri Malaysia itu, Tengku Rosani Putera.
Penetapan Hari Wartawan Nasional ini cukup berliku. Menurut Dt Zulkefli, sejak 40 tahun lalu, wartawan Malaysia sudah merancang hari wartawan, namun terhadang berbagai hambatan.
Semangat yang kuat terus mendorong mereka untuk mewujudkan hari wartawan ini, termasuk mendirikan Majelis Media Malaysia, seperti Dewan Pers di Indonesia. Untuk menguatkan tekad ini, rekan-rekan Malaysia selama enam kali ikut hadir pada Hari Pers Nasional (HPN) Indonesia.
Pada HPN 2017 di Ambon, Menteri Komunikasi dan Multimedia Salleh Said Keruak dan tokoh wartawan Malaysia, bertemu dengan sejumlah pengurus PWI Pusat, di antaranya Sekjen Hendri Ch Bangun, Saiful Hadi (alm), dan saya. Di sini, Menteri Komunikasi mendorong tokoh pers Malaysia melahirkan Hari Wartawan Malaysia.
Pembahasan Hawana ini terus berlangsung pada HPN di Padang. Rekan-rekan wartawan Malaysia sangat antusias. Semula direncanakan Hawana diselenggarakan Februari, namun baru terwujud 11 April ini.
Selamat kepada semua wartawan Malaysia, yang terus berupaya meningkatkan harkat dan martabat wartawan. Kebebasan media dalam memberitakan dan mengkritisi, sepenuhnya untuk memperbaiki, memperkuat, dan meningkatkan martabat bangsa dan negara.
Tahniah Hawana, terus melangkah dengan pasti...