Senin 20 Nov 2017 07:03 WIB

Memadamkan Bara Timur Tengah

Grafis 'Perang' Saudi - Iran
Foto: republika
Grafis 'Perang' Saudi - Iran

REPUBLIKA.CO.ID, Persaingan sengit dua seteru di kawasan Timur Tengah (Timteng) terus berlangsung. Arab Saudi dan Iran tak henti membangun kekuatan dan pengaruh. Melibatkan sekutu-sekutu yang kapan pun siap bertindak apa saja. Membuat bara di kawasan bisa terus memerah.

Adu pengaruh dan kekuatan telah berlangsung di Suriah dan Yaman. Penguasa Suriah ditopang Iran dan Hizbullah, Saudi memihak oposisi Suriah. Sedangkan di Yaman, kelompok Houthi yang dianggap didukung Iran melawan koalisi puluhan negara yang dipimpin Saudi.

Perseteruan ini merupakan dampak persaingan meraih pengaruh besar di kawasan, bukan pertarungan sektarian. Buktinya, Hamas menjalin hubungan baik dengan Iran karena bantuan mereka saat Hamas melawan Israel. Belum lama ini, pimpinan Hamas juga ke Teheran.

Baca Juga: Babak Baru 'Perang' Saudi-Iran di Timur Tengah

Kemarin, Liga Arab menggelar pertemuan darurat di Kairo, Mesir. Ini terkait perseteruan dua kekuatan itu. Mereka mempermasalahkan serangan rudal balistik Houthi ke Saudi pada 4 November lalu dan ledakan pipa minyak di Bahrain belum lama ini. Iran menjadi tertuduh.

Serangan itu, bersamaan harinya dengan pernyataan mundur Saad Hariri sebagai perdana menteri Lebanon. Pengumuman pengunduran diri Saad dilakukan di Saudi. Seperti diketahui, Saad selama ini memperoleh dukungan dari Saudi.

Dan tentu saja, Lebanon bisa saja menjadi pertempuran Iran dan Saudi selanjutnya. Sebab, Saad menyatakan, Iran dan Hizbullah ia anggap terlalu dominan dalam mengendalikan pemerintahan, meski setiap kelompok di Lebanon telah ditetapkan ‘jatah’ kekuasaannya.

Perdana menteri biasanya dijabat oleh perwakilan dari Sunni. Presiden berasal dari Kristen Maronit dan ketua parlemen untuk Syiah. Kita berharap mundurnya Saad tak memicu eskalasi politik di Lebanon yang akhirnya menyebabkan konflik antarkelompok seperti di Suriah.

Mestinya, baik Iran maupun Saudi kembali melihat yang telah terjadi di Suriah maupun Yaman sekarang ini. Di Suriah, menyusul Musim Semi Arab, muncul tuntutan agar Presiden Bashar al-Assad lengser dari jabatannya hingga berujung pada perang saudara.

Saudi berpihak pada oposisi dan Iran mendukung rezim Assad. Perang saudara yang berlangsung sejak 2011 lalu, menyebabkan Suriah porak-poranda. Situs-situs bersejarah hancur. Jutaan warga Suriah mengungsi ke negeri tetangga hingga ke Eropa.

Kondisi di Yaman juga buruk. Ribuan orang kehilangan nyawa dan ribuan lainnya terluka. Sekitar dua juta orang harus kehilangan rumah akibat konflik ini. Akses warga terhadap pangan dan infrastruktur pun semakin sulit. Butuh waktu lama membenahi semua yang hancur.

Israel berupaya masuk dalam pusaran konflik. Kepala Angkatan Bersenjata Israel Gadi Eisenkot mengajak Saudi yang tak mempunyai hubungan dengan Israel, berbagi data intelijen. Ia ingin membujuk Saudi dan negara Arab lainnya menjadikan Iran musuh bersama.

Selama ini, Israel tak senang dengan program nuklir yang dikembangkan Iran. Dan tentunya, negara-negara Barat juga bakal turut campur. Bisa saja melalui dukungan diplomasi maupun memberikan dana bantuan untuk sekutunya.

Karena itu, Iran dan Saudi sebaiknya berpikir ulang agar perseteruan mereka tak melahirkan kerugian besar di kawasan. Lihat saja bagaimana kondisi di Suriah dan Yaman. Tentu Iran dan Saudi mengeluarkan dana besar untuk membangun pengaruh.

Termasuk, misalnya, peningkatan keamanan, kedua negara tersebut tentu perlu perlu mendatangkan senjata dari negara lain. Dalam konteks ini, negara-negara Barat sebagai penjual senjatalah yang menuai keuntungan.

Pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Raja Salman sebagai penjaga dua masjid suci, sudah saatnya mengevaluasi apa yang terjadi. Lalu, mereka saling menahan diri agar bara ketegangan yang masih menyala akibat konflik di Suriah dan Yaman tak terus menyala.

Saat Saudi telah bersikap demikian, niscaya negara-negara sekutunya mengikuti langkah Saudi itu. Iktikad menahan diri dari Iran dan Saudi niscaya akan memadamkan bara itu. Jangan sampai bara menjadi api yang menghanguskan semua pihak.

(Tajuk Koran Republika, hari ini).

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement