REPUBLIKA.CO.ID,Oleh : Haedar Nashir *)
Melepas tahun lama dan menyambut tahun baru sering jadi ajang kegembiraan lahiriah belaka. Begadang, kembang api, terompet, dan berlibur merupakan kegiatan rutin banyak orang di negeri ini, bahkan di banyak negara. Tentu alamiah manakala manusia bergembira, dan tidak dilarang. Hal yang dilarang ialah sesuatu yang berlebihan, boros, sia-sia, dan larut dalam kegembiraan yang menjauhkan diri dari Tuhan.
Karenanya diperlukan pemaknaan yang esensial dalam melepas tahun berlalu dan menyongsong tahun baru dengan perenungan diri. Apakah hidup kita di tahun baru itu ingin lebih baik dan bermakna ketimbang tahun sebelumnya. Hidup yang memiliki arti positif bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, umat manusia serta lingkungan dengan melahirkan pikiran-pikiran dan amal-amal yang maslahat dan berkemajuan.
Islam mengajarkan umatnya bertaqwa dan memikirkan masa depan. Maka bagi umat Muslim, tahun 2017 harus menjadi tonggak merancang dan menjalani masa depan yang lebih produktif dan konstruktif. Allah berfirman, yang artinya "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS al-Hasyr: 18).
Umat Islam Indonesia sebagai mayoritas harus menjadikan tahun baru untuk maju dalam kehidupan, termasuk dalam ekonomi dan pendidikan. Dua aspek tersebut sangat penting dan strategis bagi kemajuan Islam untuk tumbuh menjadi kekuatan yang berkualitas. Apalah artinya jumlah yang banyak maupun kebiasaan mobilisasi massa untuk unjuk kekuatan manakala tidak disertai dengan kekuatan kualitas di bidang ekonomi dan pendidikan. Bangsa maju dan modern itu tingkat ekonomi dan pendidikannya tinggi.
Maka, umat harus melamgkah pada tahun baru dengan spirit maju. Manakala umat Islam selama ini sering terabaikan dan terpinggirkan, antara lain karena kita belum menjadi umat yang unggul dan mandiri. Kita lemah secara ekonomi dan pendidikan, sehingga kalah bersaing dengan golongan lain yang minoritas. Jika ingin kuat secara politik juga harus didukung dengan kekuatan ekonomi dan pendidikan.
Alhamdulillah Muhammadiyah relatif lebih maju dalam pendidikan, kini diperlukan kekuatan baru di bidang ekonomi. Aspek pendidikan pun harus terus ditingkatkan kualitasnya agar lebih unggul dan kompetitif. Maka, jangan berhenti beramal usaha yang produktif guna meraih kemajuan!
*) Ketua Umum PP Muhammadiyah