REPUBLIKA.CO.ID, Indonesia harus puas pulang tanpa meraih gelar pada turnamen Jepang Open Super Series (SS) 2014. Satu-satunya wakil Indonesia di babak final, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan kalah dari musuh bebuyutannya dari Korea Selatan, Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong dengan dua gim, 12-21 dan 24-26.
Sedangkan pemain Indonesia lainnya, sudah kalah terlebih dahulu di babak-babak sebelumnya. Pelapis Hendra/Ahsan, Angga Pratama/Ryan Agung Saputra juga kalah dari pasangan Korsel itu di babak semifinal.
Jika Angga/Ryan menang, seharusnya bisa tercipta All Indonesia Final dan Indonesia memastikan satu gelar di Jepang Open. Namun, rupanya ganda Korsel ini memiliki pertahanan yang kuat dan serangan yang tidak kalah tajam dari Hendra/Ahsan.
Sama halnya dengan tunggal andalan Indonesia, Tommy Sugiarto yang kalah di babak perempat final dari pemain peringkat 1 dunia asal Malaysia, Lee Chong Wei. Memang Tommy dapat memberikan perlawanan ketat selama tiga gim, namun Lee tetap menjadi momok yang menakutkan bagi Tommy dengan rekor pertemuan 11 kali pertemuan yang semuanya dimenangkan Lee.
Ganda campuran andalan Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana 'Butet' Natsir memang tidak diturunkan pada turnamen ini. Owi/Butet memang dipersiapkan khusus untuk Indonesia Open Super Series Premier (IOSSP) 2014 yang akan dimulai pada Selasa (17/6) ini. Owi/Butet memang belum pernah sekali pun meraih juara di kandangnya sendiri.
Namun tidak turunnya Owi/Butet, seharusnya bukan menjadi alasan dengan puasa gelar dari turnamen Super Series itu. Pasalnya Jepang Open menjadi ajang pemanasan bagi pemain sebelum turun di Indonesia Open. Dengan tidak meraih gelar di Jepang Open, mungkin saja Indonesia hanya jadi penonton di Indonesia Open.
Lee Chong Wei dan Lee Yong Dae/Yoo Yeon Seong juga akan turun pada Indonesia Open tahun ini. Target Indonesia untuk meraih gelar di tunggal dan ganda putra, bisa saja terganjal. Di Pelatnas sendiri, belum ada pelapis Hendra/Ahsan yang konsisten.
Prestasi Angga/Ryan masih dianggap tidak konsisten. Angga/Ryan juga belum pernah menjuarai turnamen di tingkat super series dan super series premier. Prestasi terakhir Angga/Ryan dicetak pada Indonesia Open Grand Prix Gold (GPG) 2013 dan SEA Games 2013 lalu. Sedangkan hingga pertengahan tahun ini, Angga/Ryan belum menjuarai satu turnamen pun.
Puncak penampilan buruk Angga/Ryan terjadi pada babak perempat final Thomas Cup di India beberapa waktu lalu. Saat itu, Angga/Ryan terpaksa kalah dari ganda kedua Korsel, Kim Ki Jung/Kim Sa Rang dengan tiga gim. Untungnya di pertandingan menentukan di tunggal ketiga, Simon Santoso berhasil menyelamatkan muka Indonesia dan memenangkan pertandingan dengan skor 3-2 melawan Korsel.
Wajar saja jika Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Pusat (PP) Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Rexy Mainaky juga memberikan ultimatum kepada pasangan peringkat 10 dunia itu. Rexy memberikan waktu kepada Angga/Ryan untuk berprestasi pada tiga bulan ini.
Sedangkan dari sektor tunggal putra, Indonesia masih berharap pada Tommy Sugiarto. Dengan rekor pertemuan 0-11 dari Lee Chong Wei, sepertinya akan sulit bagi Tommy untuk menjadi juara di Indonesia Open.
Kesempatan Indonesia meraih gelar sebenarnya ada pada Simon Santoso yang secara mengejutkan dapat mengalahkan Lee Chong Wei dengan dua gim langsung pada turnamen Singapore Super Series 2014. Perolehan juara ini juga lebih spesial karena Simon harus berlaga dari babak kualifikasi. Simon juga 'ditendang' dari Pelatnas pada akhir 2013 lalu.
Karena perolehan juara ini yang membuat PP PBSI memanggil Simon untuk memperkuat tim Thomas Cup 2014. Pada pekan lalu, Simon juga dipanggil lagi ke Pelatnas. Sebaliknya, tunggal kedua Indonesia, Dionysius Hayom Rumbaka ditendang dari Pelatnas karena penampilannya yang tidak stagnan dan tidak berprestasi maksimal. Terakhir Hayom menjadi meraih medali perak di ajang SEA Games 2013 lalu.
Peluang Indonesia meraih gelar di Indonesia Open di sektor ganda putra juga bisa dijegal. Selain lawan kuat dari ganda Korsel, Hendra/Ahsan juga akan menghadapi lawan berat dari ganda-ganda putra Jepang dan Denmark. Jepang menorehkan sejarah dengan meraih Thomas Cup 2014 untuk pertama kalinya dana sejarah bulu tangkis di negaranya.
Pasangan ganda campuran peringkat 2 dunia, Owi/Butet juga diprediksi akan mulus untuk menjuarai Indonesia Open. Pada pagelaran turnamen ini selama 3 tahun terakhir, menjadi catatan buruk bagi pasangan ini. Owi/Butet menjadi finalis pada Indonesia Open 2011 dan 2012. Sedangkan pada Indonesia Open 2013 hanya menjadi semifinalis.
Lawan terberat Owi/Butet dalam meraih gelar juara perdana di turnamen ini tentunya berasal dari pasangan Cina, Zhang Nan/Zhao Yunlei dan Xu Chen/Ma Jin. Selain itu, pasangan Denmark Joachim Fischer/Christina Pedersen juga bisa mengganjal langkah Owi/Butet.
Peluang Indonesia di sektor tunggal dan ganda putri di Indonesia Open sepertinya juga masih jauh. Melihat peta persaingan di dunia bulu tangkis, diperkirakan kemenangan masih berada di tangan Cina. Trio tunggal Cina, yaitu Li Xuerui, Wang Yihan dan Wang Shixian diperkirakan akan menjadi juara. Tunggal putri Indonesia, Bellaetrix Manuputty bisa menjadi kuda hitam di turnamen ini.
Ganda putri Cina seperti Bao Yixin/Tang Jinhua dan Yu Yang/Wang Xiaoli juga masih menjadi lawan menakutkan bagi ganda andalan Indonesia, Greysia Polii/Nitya Khrishinda dan Pia Zebadiah/Rizki Amelia. Namun, bukan tidak mungkin bagi pemain Indonesia untuk mengalahkan mereka.