Oleh A.Syalaby Ichsan
REPUBLIKA.CO.ID, Seorang aktivis kemanusiaan asal Myanmar datang ke Jakarta beberapa hari lalu. Usianya masih terbilang muda, tigapuluh dua tahun.
Dia seorang Muslim dari orang tua yang berbeda agama. Ayahnya Buddha, ibunya Muslim. Dia tengah berkeliling ke negara ASEAN seperti Thailand, Filipina, Malaysia, Indonesia, juga Srilanka untuk mencari dukungan para pengungsi korban konflik Rohingya.
"Tolong jangan sebut nama saya. Sebut saja saya aktivis kemanusiaan,"ujarnya usai sesi wawancara bersama wartawan. Menurutnya, aktivis biksu radikal di Myanmar sudah mulai melacak keberadaannya sebagai seorang aktivis muslim. Demi keselamatan, dia meminta kami merahasiakan identitasnya.
Lelaki itu berperawakan layaknya remaja tanggung di Indonesia. Badan kurus, mengenakan gelang di tangan kanan dengan rambut dicat pirang.
Dia bercerita soal aktivitasnya di kamp pengungsi, Sittwe, Rakhine. Disana, berjejal 150 ribu pengungsi Muslim dan Buddha. Terdapat 13 kamp pengungsi IDP. Sebelas diantaranya dihuni oleh Bengali, sebutan untuk Muslim Rohingya. Sisanya dihuni oleh warga Buddha.
Di tenda-tenda itu, keadaan pengungsi sungguh memprihatinkan. Pengungsi yang mayoritas muslim itu harus hidup di tenda selama berbulan-bulan. Suplay makanan dan obat-obatan mulai kehabisan.
Padahal, Juni bulan depan diprediksi akan datang musim hujan. Kamp pengungsi pun sungguh kurang layak."Saat kami kesana, ada seorang bayi baru lahir yang harus tidur di atas jerami,"ujarnya.
Tak hanya itu, masalah sosial pun mulai terjadi. Hampir semua pengungsi adalah pengangguran. Hanya satu-dua pengungsi dengan tabungan sisa sesekali menggelar pasar di kamp pengungsian.
Umumnya, internal displaced person (IDP), sebutan buat pengungsi, tak memiliki kesibukan. Mereka hanya berdiam diri di kamp dan bereproduksi. Angka kehamilan pun melonjak tinggi. Saat para ibu melahirkan, bayi-bayi pun kesulitan mendapatkan gizi yang layak.
Itulah mengapa kawan ini sulit untuk mengkritisi kebijakan pemerintah yang membatasi dua anak untuk IDP. Meski berbagai catatan merah sudah disiapkan untuk melawan. Dari kebijakan yang melanggar Hak Asasi Manusia, berlawanan dengan hukum islam, dan akal-akalan pemerintah untuk menghabisi populasi Muslim Rohingya.
Masalah semakin karut tatkala terjadi fenomena baru di kamp tersebut. Pelacuran. Meski tidak banyak, segelintir perempuan yang suaminya tewas ketika masa konflik harus menghidupi anak-anaknya. Sementara, mereka tak memiliki ketrampilan."Mereka menjadi pelacur dan kliennya adalah Umat Buddha,"ujarnya.
Kawan itu berkisah, warga Buddha di pengungsian pun mengalami penderitaan serupa. Mereka sangat miskin dan mengharapkan bantuan dari luar. Para pengungsi Buddha ini pun secara tak langsung 'menghambat' masuknya bantuan bagi Muslim.
Beberapa waktu lalu, ungkapnya, Pemerintah Turki berniat mendonasikan rumah untuk setiap kepala keluarga Muslim Rohingya. Proposal diajukan ke Yangon. Hanya, pemerintah menolak mentah-mentah penawaran bantuan tersebut. Alasannya, Turki tak 'memasukkan' pengungsi Buddha sebagai objek penerima bantuan.
"Bantuan untuk Muslim sering diblokade,"ujarnya. Tak hanya itu, banyak warga Buddha 'cemburu' melihat datangnya bantuan untuk Muslim. Mereka menganggap, penderma dari berbagai Negara Muslim tak adil. "Mereka merasa kalau ada bantuan dari luar, Buddha diberikan hanya 1 dolar, sedangkan Muslim 1000 dolar."
Maka, kawan itu pun mengimbau kepada para dermawan. Kalau mau membantu Muslim, bantulah Buddha. Dengan begitu bantuan tidak akan menjadi sia-sia.
Bersama salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat di Indonesia, kawan ini mencoba mengumpulkan donasi dari berbagai relawan. Untuk membangun shelter agar para pengungsi bisa hidup layak.
Setidaknya, butuh 10 ribu shelter agar semua IDP bisa hidup. Kawan itu pun bercita-cita, semua pengungsi bisa mendapat shelter dan hidup rukun entah Muslim atau Buddha.