Senin 04 Feb 2013 06:30 WIB

Indonesia dan Kepemimpinan 'Blusukan'

Jokowi membagikan Kartu Jakarta Sehat ke Warga DKI
Foto: Republika/Adhi W
Jokowi membagikan Kartu Jakarta Sehat ke Warga DKI

REPUBLIKA.CO.ID, Belakangan terakhir fenomena pemimpin 'blusukan' menghampiri dunia perpolitikan Indonesia. Blusukan yang diartikan sebagai proses pemimpin mengunjungi rakyat dengan masuk ke kampung-kampung menjadi gaya klasik yang ditampilkan kembali dalam bungkus modernitas. Adanya 'blusukan' yang dipopulerkan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menjadi perhatian banyak kalangan. Tidak heran, banyak pemimpin yang awalnya kontra dengan gaya kepemimpinan ini sekarang sibuk mengikutinya.

Gaya 'blusukan' Jokowi memang bukan sebuah barang yang aneh bagi sebagai masyarakat Indonesia. Rakyat Solo sudah sangat akrab dengan kepemimpinan Jokowi yang rajin masuk ke kampung untuk menyerap aspirasi dan kebutuhan rakyat. Dengan sering 'blusukan', Jokowi mampu mendengarkan keluhan dan keresahan masyarakat atas berbagai kejadian di sekitarnya. Mereka mengadu dan mengeluhkan persoalan hidup tanpa dibatasi jarak dan sekat dengan pemimpinnya. Kondisi ini membuat rakyat merasa sangat dekat dengan pemimpin.

Jika mau jujur banyak manfaat yang dapat dipetik pemimpin dari kebiasaan keluar masuk kampung ini. Selain pendekatan personal kepada rakyat, pemimpin dapat melihat langsung kondisi kekinian rakyat yang dipimpinnya. Mereka dihadapkan pada realitas sehingga mampu menjadi pelayan rakyat dalam pengertian yang sesungguhnya. Ketika itu terjadi, pola dan hubungan yang terbangun adalah kedekatan emosional dan personal. Ini menguntungkan rakyat yang mempercayakan solusi kepada pemimpin, sebaliknya pemimpin diuntungkan mendapatkan kepercayaan langsung dari rakyat.

Mengekor siapa?

Tradisi 'blusukan' Jokowi yang sudah berjalan sejak memimpin di Solo memang semakin populer di Jakarta. Beberapa kali Jokowi mendatangi korban banjir, masuk ke gang sempit dan pasar tradisional untuk mendengarkan keluhan masyarakat. Tindakan Jokowi membuat Presiden SBY tergerak hatinya. Sang Presiden mulai bergerak dengan melakukan 'blusukan' ke tempat pelelangan ikan di daerah Tanjung Pasir, Kabupaten Tangeran, Provinsi Banten. Proses kunjungan yang tidak biasa, sebab Presiden SBY tanpa pengawalan ketat protokoler sehingga dapat membaur dan berdialog lebih leluasa dengan masyarakat setempat.

Jika diperhatikan lebih dalam, setidaknya ada tiga konsepsi 'blusukan' yang dilakukan pemimpin sekarang. Pertama, pemimpin turun langsung setiap hari ke kampung-kampung. Mereka melihat, mendengar dan merasakan kehidupan rakyat seutuhnya. Kondisi ini dapat mengonfirmasi apa yang terjadi di masyarakat secara konkret. Sebab informasi yang didapatkan berdasarkan sesuatu yang utuh dan realitas lapangan yang tidak menipu.

Kedua, pemimpin menyapa rakyat tanpa dilengkapi dan dikawal protokoler. Mereka bergerak tanpa pengawalan dan hampir selalu tidak menggunakan seragam dinas. Kondisi ini penting agar tidak terjadi jarak antara pemimpin dan rakyat karena berbagai aturan yang ditetapkan protokoler. Sebab selama ini protokoler sangat mengganggu usaha rakyat bertegur sapa, berjabat tangan dan bercengkerama langsung dengan pemimpinnya.

Ketiga, pemimpin tanpa canggung ngobrol di warung kopi, pasar tradisional dan gang sempit bersama masyarakat. Pembicaraan berlangsung santai, tanpa ada jarak dengan rakyatnya. Kesempatan ini sangat baik dimana pemimpin dapat bergaul langsung dengan kehidupan rakyat kebanyakan. Lebih jauh, mereka dapat merasakan langsung suara rakyat, bukan suara penguasa atau kelompok tertentu yang diklaim mewakili suara rakyat. .

Mereka belajar dari Khalifah Umar

Dalam mempelajari maraknya fenomena 'blusukan' pemimpin Indonesia, Jokowi sebenarnya meniru apa yang dilakukan Umar bin Khattab ra. Beliau adalah sahabat Rasulullah SAW yang dikenal berwatak keras dan kasar kepada orang kafir. Namun Umar selalu bersikap lembut terhadap orang beriman dan rakyat yang dipimpinnya. Tidak heran, masa kepemimpinan Umar yang singkat banyak diwarnai kisah kesederhanaan, blusukan ke kampung dan melayani rakyat sepenuh hati. Umar sukses menerapkan kepemimpinan partisipatif yang diterjemahkan dengan turun langsung menemui rakyat.

Dalam sebuah kesempatan, diceritakan pada suatu malam Umar berkeliling kampung untuk melihat kondisi kehidupan rakyat secara langsung. Tradisi 'blusukan' Umar merupakan bentuk pengawasan dan menyerap aspirasi kebutuhan rakyatnya. Hatinya trenyuh, matanya tertunduk dan air mata mulai menetes melihat kehidupan di sebuah rumah. Tampak seorang ibu memasak dan menggendong anaknya yang tidak berhenti bertanya kapan masakan sang ibu matang.

Umar terlibat dalam sebuah dialog singkat dengan sang ibu. Dari hasil dialog, Umar tahu masakan sang ibu tidak akan pernah matang. Sebab ibu tersebut memasak sebuah batu. Umar merasa bersalah melihat masih ada rakyat yang kelaparan. Kegelisahan menggelayuti Khalifah kedua dalam sejarah Islam ini sehingga menggerakkan dirinya mengambil dan memanggul makanan dari Baitu Maal untuk diserahkan kepada ibu tersebut.

Inilah buah tarbiyah Rasulullah SAW kepada para sahabat termasuk Umar bin Khattab ra. Beliau mengajarkan proses bagaimana mencintai rakyat, melebihi kecintaan kepada dirinya sendiri. Secara sempurna, Umar yang merupakan kader binaan Rasulullah SAW mencontohkan pemimpin tidak boleh menjaga jarak dengan rakyat. Tugas seorang pemimpin adalah hidup bersama rakyat dan melayani kebutuhan fundamental rakyat, bukan dilayani rakyat yang sudah memilihnya.

Umar secara aktif memberikan inspirasi keteladanan terbaik yang seharusnya dicontoh Jokowi dan SBY. Pemimpin terbaik seharusnya mau dan mampu melihat kondisi langsung rakyat. Hadir bersama rakyat dan memberikan solusi nyata, bukan diam berpangku tangan sambil menunggu laporan bawahan yang berprinsip Asal Bapak Senang (ABS). Keberhasilan pemimpin sesungguhnya dibangun dengan kerja nyata bukan pencitraan semu yang membuat rakyat semakin muak ketika mencapai titik jenuh.

Penulis: Inggar Saputra

Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement